Smart and Religious!

Tokoh

K.H. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin R.A.

51

Haiiii gaiss,, bertemu lagi dengan  Al Uswah, pada edisi yang ke-51 ini pastinya banyak artikel-atikel yang menarik dan jangan sampai dilewatkan yaa,,, pada kesempatan kali ini kami akan mengupas tokoh dari Indonesia tepatnya di Tasikmalaya. Agar lebih jelasnya yuk kita simak artikel di bawah ini.

  1. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin R.A yang juga dikenal dengan sebutan Abah Anom. Lahir di Kampung Godebah , Suryalaya , Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagarageung, Kabupatan Tasikmalaya. pada tanggal 1 Januari 1915 –  beliau Wafat di Tasikmalaya , 5  September 2011 pada Umur 96 Tahun. Ia adalah putra kelima dari Syeikh Abdullah Mubarok bin Muhammad dan Ibu Hajjah Juhriyah.

Beliau merupakan Pemimpin Thariqah Qadiriyah Naqshabandiyah (TQN) di Pesantren Suryalaya,Pagerageung , Tasikmalaya. Pada Usia 8 tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School ) di Ciamis pada tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut Ilmu Agama Islam secara lebih  khusus. Ia belajar ilmu Fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang, Cianjur . kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan Balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa. Kemudian Ia melanjutkan ke Pesantren Gentur , Cianjur yang saat itu diasuh oleh Mama Ajengan Ahmad Syathibi.

Dua Tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas,Cimelati , Sukabumi . Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang  Ahli  hikmah dan silat. Dari Pesantren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman.

MENDIRIKAN PESANTREN

Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan ruhani , semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri yaitu Inabah. Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar menjadi nama pesantrennya , tapi lebih dari itu,ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang. Dalam kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah  peringkat ruhani (maqam),yang harus dilalui sufi dalam perjalanan ruhani menuju Alllah SWT. “salah satu hasil dari muraqabatullah adalah Al-Inabah yang maknanya kembali dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah SWT karena merasa malu ‘melihat’ Allah”.jelas Abah yang merujuk pada kitab Taharat Al-Qulub.

Salat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom, para pasien itu belum dapat Salat karena masih dalam  keadaan mabuk (Sukara), karena itu langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari keadaan mabuk dengan mandi junub. apalagi sifat pemabuk ghadab (pemarah) yang merupakan perbuatan Syaithan yang terbuat dari api. Obat tiada lain kecuali air. Jadi, selain dzikir  dan salat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan metode wudlu dan mandi Junub.

Perpaduan kedua metode sampai kini tetap Abah Anom untuk mengobati para pasiennya dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Metode ini cukup berhasil. Buktinya, cabang Inabah tak hanya  Indonesia , Singapur langsung berdiri sebuah cabang serta Malaysia dua cabang. Belum lagi Tamu Tamu yang mengalir dari berbagai benua seperti Afrika , Eropa dan  Amerika.

Setelah menjalani masa yang cukup panjang Abah Anom sebagai Guru Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada hari Senin tanggal 05 September 2011 pukul 11.55 dalam usia 96 tahun

Leave A Reply

Your email address will not be published.